Anak saya lahir (Bag. 1)
February 18th, 2008 by mas
Menyambung tulisan saya sebelumnya, akhirnya sehari setelah diperiksa dan diketahui bahwa sudah ada pembukaan ke 2, Istri saya tidak jadi masuk ke Ruang Bersalin RS Mitra Keluarga Bekasi. Saya sendiri pada mulanya menyarankan untuk langsung masuk sesudah diketahui ada pembukaan tersebut. Tapi sesudah melihat istri yang sepertinya takut dan stress menghadapi permulaan kelahiran ini, akhirnya saya putuskan untuk istirahat di rumah sembari menunggu kondisi istri nyaman dan gerakan si jabang bayi semakin kuat terasa. Masalahnya, istri saya cuman sakit perutnya jarang-jarang. Belum ada tanda-tanda kontraksi yang cukup sering. Sifatnya hanya kadang-kadang saja dengan jarak yang panjang.
Sesudah istirahat di rumah, dan sambil persiapan untuk pergi ke Rumah Sakit lagi, Jumat 15 Febuari saya minta ijin dari kantor untuk tidak masuk. Dan dari pagi, istri memberikan informasi kalau sudah mulai mules-mules dan otot perutnya sudah kencang. Pagi itu tiap1 jam, istri saya sudah meringis menahan sakit karena kontraksi, dan akhirnya, saya memutuskan untuk berangkat ke Rumah Sakit sesudah sholat jumat saja, sambil menunggu persiapan selesai, saya jumatan dulu.
Selesai jumatan jam 13.00 siang, Istri saya sudah menunggu untuk berangkat, dan saya langsung disuruh siap-siap karena kelihatannya hari Jumat ini anak saya mau lahir. Istri saya kayaknya sudah siap sekali,

Jam 14.00 akhirnya kami semua sampai, Saya, Istri, Ibu Mertua, dan keponakan saya yang mengantarkan ke RS langsung daftar ke Bagian Bersalin dan langsung di urus segala keperluannya. Dan, pengantar tidak boleh masuk. Ya, akhirnya nunggu di ruang tunggu. Dan memang, menunggu, apalagi menunggu istri melahirkan memang bikin deg-degan. Ga enak apa-apa deh.Jam 15.00 Istri saya akhirnya keluar dari ruangan pengecekan. Dan sudah berganti baju khusus ibu-ibu yang mau melahirkan dan juga penanda gelang yang lucu. Lucu karena saya sendiri ga pernah lihat sebelumnya tapi sepertinya merupakan standar bagi pasien yang di rawat di Rumah Sakit Mitra Bekasi. Seperti ini nih :


Dan selama belum masuk kamar bersalin, istri saya tetap disuruh jalan-jalan di lorong ruang bersalin, karena informasi dari susternya, pembukaanya masih 4. Masih cukup lama menurut susternya. Jalan-jalan juga tidak bisa lama, karena setiap 10 menit sekali istri saya juga berhenti sejenak karena kontraksinya mulai terasa dan saya ga tega juga lihat istri saya meringis sampai menitikkan airmata saking sakitnya.Akhirnya, Jam 17.00 kamar bersalin untuk istri saya sudah selesai disiapkan. Sebelumnya masih belum bisa digunakan karena harus dibersihkan dulu. Ruang bersalin no 3 tersebut baru saja selesai digunakan menolong persalinan. Jadi harus di sterilkan dulu. Biar mengurangi resiko adanya kuman penyakit yang ada.Dan di kamar ini, istri saya sudah kontraksi dengan cepat. Bahkan hampir tiap 5 menit kontraksinya. Dan tiap kontraksi betul-betul bikin saya ga tega. Dan atas petunjuk suster, tiap kontraksi yang terjadi istri saya disuruh mengambil nafas yang dalam dan mengeluarkannya secara pelan-pelan. Begitu setiap terjadi kontraksi. Dan betul, cara tersebut mengurangi sakitnya akibat kontraksi.Dan mulai jam 17.30, Istri saya sudah betul-betul tidak bisa menahan sakit. Suster dan bidan yang saya panggil, melakukan pemeriksaan dan tanpa menginformasikan, segera keluar dan menyiapkan peralatan untuk kelahiran sang jabang bayi. Dan Istri saya sudah dilatih untuk mengejan dengan baik agar memperlancar proses keluarnya sang bayi. Dan memang, istri saya kesulitan sekali mempraktikan apa yang di ajarkan suster untuk menarik kaki dengan menggunakan kedua tangan sampai siku. Walaupun sudah dicoba dan betul-betul kesakitan karena terbentur perut yang besar, tetap tidak bisa mengangkat kakinya dengan kedua siku. Dan akhirnya menyerah. Sesudah kondisi istri saya yang sudah tidak mempunyai kekuatan lagi, dan takutnya ada pengaruh terhadap kondisi bayinya. Akhirnya, Dokter Lidya yang selama ini menangani istri saya datang dan melakukan pengecekan. Dan mencoba memandu istri saya untuk mengejan.
Dan karena kondisi istri sudah semakin lemas dan denyut nadi bayi saya sempat bermasalah, naik turun denyut nadinya yang awalnya dari 140 pas pada kondisi istri saya menjadi sekitar 120an, akhirnya dokter menanyakan ke saya, apakah diijinkan untuk diambil tindakan untuk mempercepat proses kelahiran dan mengurangi resiko yang mungkin timbul nantinya. Saya cuman bisa jawab ke dokter Lidya,”Silakan Dokter, Lakukan yang terbaik untuk Istri saya “.
Sesudah saya menyampaikan itu, akhirnya Dokter Lidya menggunakan vakum untuk menarik kepala bayi saya yang dari tadi sudah terlihat di jalan lahir. Akhirnya sesudah dilakukan vakum, tepat jam 18.55 Anak saya lahir. Allahu Akbar. Betapa kegembiraan yang tidak bisa dibayangkan, ketika anak saya menangis keras untuk pertama kalinya sesudah keluar dari rahim ibunya.
Sesaat kemudian, sesudah keluar dan oleh suster diangkat. Dokter Lidya memotong tali pusar bayi dan kemudian membalutnya. Sebelum dibawa ke ruang anak untuk dibersihkan, saya adzani dulu dan iqomati dan tidak lupa, anaknya diajak untuk berkenalan dengan ibunya dan mencoba untuk mencari puting ibunya biar nantinya lebih hafal dan lebih punya hubungan yang erat dengan ibunya. Ini dia anak saya dan ibunya beberapa saat sesudah dilahirkan :

-bersambung-



Sekedar Catatan Perjalanan